Rabu, 11 Juli 2012

DIBIARKAN MENYONTEK, ANAK MENJADI KECANDUAN

Hampir setiap orang pernah merasakan sensasi menyontek di kala ujian, ada pahit,getir, semriwing bahkan manis ketika berhasil memperoleh jawaban yang diinginkan tanpa diketahui pengawas ujian. Mencontek membutuhkan kreativitas, di zaman yang sudah maju ini orang seringkali menyalahgunakan teknologi untuk melakukan hal-hal yang negatif yang pada akhirnya akan mencelakakan dirinya sendiri. Mencontek bisa menggunakan media cetak dan media elektronik yang akhir-akhir ini meresahkan pengawas karena ‘menangkapnya’ semakin susah.
Akan tetapi tidak setiap orang pernah menyontek karena mereka sudah meiliki suatu kepercayaan diri. Jadi awal dari timbulnya menyontek adalah rendahnya suatu rasa percaya diri. Bukan percaya diri dari segi penampilan atau kemampuan berekspresi akan tetapi rasa percaya diri dalam hal yang bersifat kognitif jadi kurangnya pengetahuan dan wawasan seseorang. Mereka tidak yakin dengan kemampuan yang dimiliki dan selalu menganggap orang lain lebih pandai bahkan percaya kalau jawaban orang lain lebih tepat dibanding jawaban sendiri. Nah disinilah yang menyebabkan kecanduan dalam menyontek.  Lalu bagaimana dengan orang yang telah belajar semalam suntuk namun akhirnya ketika ujian menyontek juga?
Seringkali kebiasaan menyontek sering dianggap remeh baik dari pihak guru maupun dari pihak siswa yang melakukan hal tersebut. Peraturan-peraturan waktu ujian dibacakan sebelum siswa mulai mengerjakan soal ujian akan tetapi bagi siswa itu tidak penting yang paling penting adalah mereka dapat menyelesaikan soal ujian dengan benar bagaimanapun cara yang ditempuhnya.

Kegiatan menyontek terjadi karena 2 faktor utama: 1) sudah belajar, tetapi kurang percaya diri akan jawaban yang diketahui karena dalam diri orang itu merasa ragu kebenarannya dan takut salah dan 2) belum belajar, sehingga orang ini akan selalu tergantung dari orang yang bersedia membei contekan. Nah, dari 2 faktor utama tersebut seorang guru harus mampu mengerti keadaan dan alasan siswa mencontek berdasar dari 2 faktor utama tersebut sehingga mampu memberikan penyelesaian untuk
            Selalu ditekankan bahwa cara belajar yang efektif adalah belajar dengan sistem tahap demi tahap lembar demi lembar setiap hari bukan belajar yang bersistem kebut semalam jadi belajar ketika H-1 dari ujian saja. Akan tetapi bagi peserta didik yang malas belajar setiap hari hal tersebut akan sangat berat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disini peran guru SD dibutuhkan untuk membentuk jiwa peserta didik yang memilki rasa percaya diri dan iman yang kuat. Rasa percaya diri yang tumbuh ketika duduk di bangku SD tidak menjamin bahwa anak yang tidak pernah menyontek waktu SD dia akan selalu begitu seterusnya karena factor lingkungan sekitar juga mendukung kegiatan menyontek.
Langkah-langkah pengawas dalam menghadapi siswa SD yang menyontek dapat dilakukan dengan:
1.    Ujian di hari pertama pengawas mencatat nama siswa yang menyontek, kemudian hasilnya diserahkan kepada pengawas yang lain yang bertugas.
Untuk anak SD, anak yang menyontek menggunakan media elektronik lebih sedikit dibanding anak SMA, anak SD yang berani menggunakan handphone dapat dihitung dengan jari biasanya adalah anak yang di kelas memang sudah ‘terkenal’ nakalnya dan pengawas sendiri sewaktu ujian harus lebih banyak memperhatikan gerak-gerik anak tersebut. Anak SD lebih dominan menyontek dengan bertanya kepada teman sebelah, depan dan belakang.
2.    Dari hasil pencatatan yang kemarin, pengawas lebih memfokuskan perhatiannya kepada nama-nama anak yang telah tercatat. Apabila yang kemarin yang namanya tercatat tetap tidak bisa diam dan tenang lembar jawab langsung diambil tanpa pikir panjang.
Ketika ada lembar jawab teman yang diambil maka siswa yang lain akan takut dan berusaha untuk mengerjakan sendiri, namun setelah ada insiden lembar jawab diambil kita tidak boleh ‘memanas-manasi’ kelas karena dengan hal tersebut jiwa anak sudah terguncang dan konsentrasinya buyar jadi tetap berikan suasana hangat jangan menunjukkan kemarahan.
Untuk anak yang lembar jawabnya kita ambil kemudian kita bisiki agar dia tetap mengerjakan di kertas coret-coretnya.
3.    Setelah dari insiden lembar jawab diambil siswa yang banyak tingkah dan bertanya ke teman akan semakin berkurang namun pengawas tetap menjalankan dari yang pertama dan kedua tadi.
Untuk anak yang lembar jawabnya diambil, setelah selesai ujian diharap untuk ke ruang guru/ ruang kepala sekolah yang ruangannya memadai untuk menemui pengawas yang bersangkutan. Di ruang tersebut pengawas memberikan motivasi dan penguatan kepada anak dengan terlebih dahulu member kesempatan anak menyampaikan alas an-alasannya setelah diketahui masalah dari anak pengawas harus mampu memberikan penyelesaian kemudian member kesempatan anak untuk menyalin jawabannya  yang tadi waktu diambil lembar jawabnya baru no 10 dari 40 soal. Karena kalau tidak diberikan kesempatan anak untuk menyalin kembali jawabannya kasihan sekali anak kehilangan nilai dari 30 soal.

Dari langkah-langkah tersebut mungkin membuat anak belum jera sepenuhnya tetapi hanya akan mengurangi karena seperti halnya pemakai narkotika, mereka yang tertangkap karena kedapatan mengkonsumsi narkoba pada umumnya tidak dimasukkan ke dalam tahanan biasa yang penuh dengan kekerasan didalamnya akan tetapi orang yang kecanduan narkoba dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi dimana di tempat itu diberikan pelatihan bukan secara kekerasan namun dengan pendekatan-pendekatan psikologis begitu juga dengan masalah kecanduan mencontek dan juga dapat membantu guru untuk dapat mengetahui berbagai masalah siswa dalam belajar, karena sukses atau tidaknya guru dalam memberikan pelajaran bisa dilihat dari hasil ujian siswa. Jika hasil ujian siswa ada yang kurang bagus guru tidak boleh menyalahkan sepenuhnya kepada siswa tanpa mau tahu sebab-sebabnya. Nah, jika guru mengetahui sebabnya maka guru akan mampu menciptakan inovasi yang lebih mendukung untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul.

Lila Argawati Septiarum (dimuat di Majalah Dikpora DIY "Candra" edisi 6 Th. XLI)

1 komentar: