Rabu, 05 Februari 2014
MARI MENGENAL BANGUN DATAR!
Kamis, 02 Januari 2014
Tujuan Pendidikan Hanya untuk Memperoleh Pekerjaan?
“Nak, belajar yang rajin biar besok kalau
sudah besar bisa jadi polisi.” Kata- kata ini mungkin
tanpa sadar sering orang tua ucapkan untuk memberi semangat belajar anak- anak
nya di dalam dunia pendidikan ini, namun tanpa sadar mereka telah mendoktrin
kepada anak mereka bahwa akhir dari pendidikan seorang anak itu adalah suatu
pekerjaan atau profesi bukan dari proses bagaimana mereka memperoleh ilmu itu
sendiri sehingga yang terjadi saat ini bukan kecerdasan otak, tingkah laku maupun
spiritual yang dihasilkan namun lebih pada bagaimana seorang memperoleh
pekerjaan dengan pendidikan yang telah ia tempuh.
Selasa, 24 Desember 2013
Memanfaatkan Undangan Manten untuk Pembelajaran
Setelah Ujian Akhir Semester I anak-anak mengikuti kegiatan remedial atau mengulang pelajaran yang nilainya kurang masih di bawah KKM. Sebagai guru kelas satu yang siswanya istimewa beda dari kelas di atasnya akan sangat sulit ketika siswa juga diberikan remidi seperti yang lain, sehingga harus bisa menyiasatinya.
Lalu saya evaluasi pelajaran yang membuat anak-anak kesulitan dalam memahami yakni tentang bilangan loncat. Untuk itu siswa saya beri tugas berhitung bilangan loncat dengan memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai di rumahnya yaitu undangan manten bekas kemudian diberi namabunga sate bilangan loncat, awalnya saya beri nama bunga, namun anak laki-laki menjadi tidak tertarik lalu saya ganti nama menjadi sate. Selain anak-anak merasa senang, kegiatan ini sudah jadi tugas remedi bagi mereka.
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sate bilangan loncat, antara lain:
Lalu saya evaluasi pelajaran yang membuat anak-anak kesulitan dalam memahami yakni tentang bilangan loncat. Untuk itu siswa saya beri tugas berhitung bilangan loncat dengan memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai di rumahnya yaitu undangan manten bekas kemudian diberi nama
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sate bilangan loncat, antara lain:
- spidol
- gunting
- undangan pernikahan bekas (jika kurang bisa diganti kalender yang sudah tidak terpakai)
- lem
- botol bekas
- lidi panjang
- penjiplak bentuk lingkaran (bisa dari bekas krim wajah atau badan milik orang tua siswa atau bisa kita siapkan)
![]() |
| Alat dan bahan yang digunakan |
Kamis, 07 November 2013
Jadi Guru Olah Raga, Siapa Takut?
Jadwal olah raga kelas 1A dan 1B adalah
hari Senin, tetapi hari senin kemarin kebetulan bapak guru yang mengajar
masing-masing kelas sedang berhalangan hadir karena ada acara dinas guru olah raga
se-Kabupaten Bantul, Yogyakara. Tugas mengajar kelas 1 diserahkan kepada guru
kelas, karena dirasa saya paling muda, maka guru kelas sebelah (kelas 1A) menyerahkan
kelasnya kepada saya, jadi mau tidak mau saya mengajar dua kelas untuk mapel
olah raga. Kalau disuruh mengajar tari mungkin masih sedikit bisa, tapi kalau
olahraga, entahlah. Saya bingung mau mengajari apa karena ini baru sekali
ngajar dua kelas biasanya satu kelas udah bikin pusing. Awalnya anak-anak mau
kuminta lari keliling.
sekolah, namun terbayang ketika mereka berlari pasti
berisik dan mengganggu kelas lain. Kebetulan kelas 1A adalah kelas yang lebih
luar biasa kalau dibandingkan kelas saya, terutama disana ada para “penghuni
kelas” yang sudah beberapa tahun tinggal kelas jadi bisa dibayangkan riuhnya keadaan.
Kamis, 18 Juli 2013
Lila, ibu dari 20 anak :)
"Bu lila, melisa nangis!" "Bu lila, agung bukunya disobek azis terus nangis!" "Bu lila, ilyas dinakali anak kelas 2" "Bu lila, saya mau pipis!" "Bu lila, Bu lila, Bu lila, Bu lila!"
Pernah dipanggil "bu" oleh sebanyak 20 anak dalam satu hari dan dalam satu ruangan?
Saya pernah!
Bukan rekayasa ataupun fiktif belaka tapi ini yang saya hadapi di lapangan tempat saya bekerja. Rempong? Susah? Bikin stres? Tidak! Tidak! Tapi sangat menyenangkan :) toh beberapa saat lagi kita khususnya wanita akan dihadapkan oleh keadaan seperti ini, tapi di rumah sendiri dan kurang dari 20 anak.
Dari 20 anak itu memiliki karakter sendiri-sendiri nggak ada yang sama meski ada yang mirip, dalam mengajar mereka yang lebih dulu saya pelajari adalah karakternya, mau dibawa kemana anak ini. Gitu.
Pernah dipanggil "bu" oleh sebanyak 20 anak dalam satu hari dan dalam satu ruangan?
Saya pernah!
Bukan rekayasa ataupun fiktif belaka tapi ini yang saya hadapi di lapangan tempat saya bekerja. Rempong? Susah? Bikin stres? Tidak! Tidak! Tapi sangat menyenangkan :) toh beberapa saat lagi kita khususnya wanita akan dihadapkan oleh keadaan seperti ini, tapi di rumah sendiri dan kurang dari 20 anak.
Dari 20 anak itu memiliki karakter sendiri-sendiri nggak ada yang sama meski ada yang mirip, dalam mengajar mereka yang lebih dulu saya pelajari adalah karakternya, mau dibawa kemana anak ini. Gitu.
Yap! langsung saja gak usah banyak basa basi, saya akan kenalkan mereka dimulai dari murid saya yang duduk paling belakang pojok :
Ayo Belajar Menulis Huruf!
Hari Kamis tanggal 18 Juli adalah KBM hari pertama setelah tiga hari anak- anak kelas satu mengikuti MOS, kebetulan jadwal pelajaran hari itu SBK, matematika, dan bahasa Indonesia. Saya campur jadi satu ketiganya atau istilahnya tematik. Dimulai dari SBK saya minta anak membawa undangan manten dari rumah yang jelas sudah tidak terpakai lagi. Selain undangan manten, anak diminta membawa lem dan gunting dari rumah. Berikut langkah-langkah mendayagunakan barang tak terpakai untuk pembelajaran :
Rabu, 17 Juli 2013
Masa Orientasi Siswa SD
![]() |
| euforia hari pertama masuk sekolah |
Langganan:
Postingan (Atom)



