“Dino, duduk rapi dengarkan Bu Guru jangan jalan-jalan dan bermain di dalam kelas!”
Kata- kata ini sudah tidak asing lagi terdengar di dalam kelas dalam suatu kegiatan belajar mengajar bahkan sejak duduk di sekolah dasar.
Maksud dan tujuan guru memang baik dan tidak ada salahnya meminta siswanya mendengarkan dan mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung tanpa mengganggu teman yang lain dengan satu harapan anak didiknya kelak jadi anak pintar dan sukses.
Namun seiring waktu berjalan, pola pikir anak semakin berkembang karena pengaruh berbagai hal yang tentu lebih banyak. Kalau orang jaman dahulu hanya terpengaruh oleh orang tua saja sehingga “tunduk” pada orang tua dan tidak sering melakukan pelanggaran atau perilaku menentang yang lain, berbeda dengan anak sekarang yang semakin maju jaman semakin banyak yang mempengaruhi pola pikirnya ada dampak positif dan negatif yang banyak mereka peroleh tergantung bagaimana orang tua dapat mengarahkan.
Dari
Selasa, 20 Mei 2014
Senin, 19 Mei 2014
CAS
Tidak terasa sudah setahun bersama 22 anak di dalam satu ruangan. Banyak pelajaran yang saya dapat dari berbagai tingkah dan polah anak-anak dalam kelas setiap harinya. Pelajaran yang saya peroleh di bangku kuliah sangat membantu dalam memecahkan berbagai masalah. Masalah yang timbul tidak terbatas dari kenakalan anak-anak, namun lebih pada masalah orang tua mereka. Yaps memang orang tua/ wali murid yang justru banyak "bermasalah". Mulai dari wali murid yang protes anaknya kurang diperhatikan, wali murid yang memalsukan akte kelahiran karena hamil di luar nikah, dan wali murid yang nunggak bayar buku padahal memdapatkan beasiswa sampe nagihnya kejar-kejaran di sekolah pas jemput anaknya. Bahkan ada seorang wali murid yang gila, gila bukan sebuah konotasi namun memang seorang yang tidak normal dan dihamili lelaki tak bertanggung jawab. Bagaimana seorang guru tetap harus sopan memperlakukan orang yang tidak normal sama seperti yang lain juga tidak mudah.
Rabu, 05 Februari 2014
MARI MENGENAL BANGUN DATAR!
Kamis, 02 Januari 2014
Tujuan Pendidikan Hanya untuk Memperoleh Pekerjaan?
“Nak, belajar yang rajin biar besok kalau
sudah besar bisa jadi polisi.” Kata- kata ini mungkin
tanpa sadar sering orang tua ucapkan untuk memberi semangat belajar anak- anak
nya di dalam dunia pendidikan ini, namun tanpa sadar mereka telah mendoktrin
kepada anak mereka bahwa akhir dari pendidikan seorang anak itu adalah suatu
pekerjaan atau profesi bukan dari proses bagaimana mereka memperoleh ilmu itu
sendiri sehingga yang terjadi saat ini bukan kecerdasan otak, tingkah laku maupun
spiritual yang dihasilkan namun lebih pada bagaimana seorang memperoleh
pekerjaan dengan pendidikan yang telah ia tempuh.
Selasa, 24 Desember 2013
Memanfaatkan Undangan Manten untuk Pembelajaran
Setelah Ujian Akhir Semester I anak-anak mengikuti kegiatan remedial atau mengulang pelajaran yang nilainya kurang masih di bawah KKM. Sebagai guru kelas satu yang siswanya istimewa beda dari kelas di atasnya akan sangat sulit ketika siswa juga diberikan remidi seperti yang lain, sehingga harus bisa menyiasatinya.
Lalu saya evaluasi pelajaran yang membuat anak-anak kesulitan dalam memahami yakni tentang bilangan loncat. Untuk itu siswa saya beri tugas berhitung bilangan loncat dengan memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai di rumahnya yaitu undangan manten bekas kemudian diberi namabunga sate bilangan loncat, awalnya saya beri nama bunga, namun anak laki-laki menjadi tidak tertarik lalu saya ganti nama menjadi sate. Selain anak-anak merasa senang, kegiatan ini sudah jadi tugas remedi bagi mereka.
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sate bilangan loncat, antara lain:
Lalu saya evaluasi pelajaran yang membuat anak-anak kesulitan dalam memahami yakni tentang bilangan loncat. Untuk itu siswa saya beri tugas berhitung bilangan loncat dengan memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai di rumahnya yaitu undangan manten bekas kemudian diberi nama
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat sate bilangan loncat, antara lain:
- spidol
- gunting
- undangan pernikahan bekas (jika kurang bisa diganti kalender yang sudah tidak terpakai)
- lem
- botol bekas
- lidi panjang
- penjiplak bentuk lingkaran (bisa dari bekas krim wajah atau badan milik orang tua siswa atau bisa kita siapkan)
![]() |
| Alat dan bahan yang digunakan |
Kamis, 07 November 2013
Jadi Guru Olah Raga, Siapa Takut?
Jadwal olah raga kelas 1A dan 1B adalah
hari Senin, tetapi hari senin kemarin kebetulan bapak guru yang mengajar
masing-masing kelas sedang berhalangan hadir karena ada acara dinas guru olah raga
se-Kabupaten Bantul, Yogyakara. Tugas mengajar kelas 1 diserahkan kepada guru
kelas, karena dirasa saya paling muda, maka guru kelas sebelah (kelas 1A) menyerahkan
kelasnya kepada saya, jadi mau tidak mau saya mengajar dua kelas untuk mapel
olah raga. Kalau disuruh mengajar tari mungkin masih sedikit bisa, tapi kalau
olahraga, entahlah. Saya bingung mau mengajari apa karena ini baru sekali
ngajar dua kelas biasanya satu kelas udah bikin pusing. Awalnya anak-anak mau
kuminta lari keliling.
sekolah, namun terbayang ketika mereka berlari pasti
berisik dan mengganggu kelas lain. Kebetulan kelas 1A adalah kelas yang lebih
luar biasa kalau dibandingkan kelas saya, terutama disana ada para “penghuni
kelas” yang sudah beberapa tahun tinggal kelas jadi bisa dibayangkan riuhnya keadaan.
Kamis, 18 Juli 2013
Lila, ibu dari 20 anak :)
"Bu lila, melisa nangis!" "Bu lila, agung bukunya disobek azis terus nangis!" "Bu lila, ilyas dinakali anak kelas 2" "Bu lila, saya mau pipis!" "Bu lila, Bu lila, Bu lila, Bu lila!"
Pernah dipanggil "bu" oleh sebanyak 20 anak dalam satu hari dan dalam satu ruangan?
Saya pernah!
Bukan rekayasa ataupun fiktif belaka tapi ini yang saya hadapi di lapangan tempat saya bekerja. Rempong? Susah? Bikin stres? Tidak! Tidak! Tapi sangat menyenangkan :) toh beberapa saat lagi kita khususnya wanita akan dihadapkan oleh keadaan seperti ini, tapi di rumah sendiri dan kurang dari 20 anak.
Dari 20 anak itu memiliki karakter sendiri-sendiri nggak ada yang sama meski ada yang mirip, dalam mengajar mereka yang lebih dulu saya pelajari adalah karakternya, mau dibawa kemana anak ini. Gitu.
Pernah dipanggil "bu" oleh sebanyak 20 anak dalam satu hari dan dalam satu ruangan?
Saya pernah!
Bukan rekayasa ataupun fiktif belaka tapi ini yang saya hadapi di lapangan tempat saya bekerja. Rempong? Susah? Bikin stres? Tidak! Tidak! Tapi sangat menyenangkan :) toh beberapa saat lagi kita khususnya wanita akan dihadapkan oleh keadaan seperti ini, tapi di rumah sendiri dan kurang dari 20 anak.
Dari 20 anak itu memiliki karakter sendiri-sendiri nggak ada yang sama meski ada yang mirip, dalam mengajar mereka yang lebih dulu saya pelajari adalah karakternya, mau dibawa kemana anak ini. Gitu.
Yap! langsung saja gak usah banyak basa basi, saya akan kenalkan mereka dimulai dari murid saya yang duduk paling belakang pojok :
Langganan:
Postingan (Atom)





